Peran Ahli Gizi di Era Milenial Oleh : Rayyana Aurora Nur Asysyifa Komisariat Ar – Razy Unimus

 

Peran Ahli Gizi di Era Milenial

Oleh Rayyana Aurora Nur Asysyifa

Komisariat Ar – Razy Unimus

Bagi sebagian orang, istilah ahli gizi mungkin masih terdengar asing. Padahal ilmu gizi sendiri sudah berkembang sejak lama di Indonesia. Ahli Gizi merupakan tenaga spesialis yang bertugas memberikan saran dan informasi kepada pasien terkait tata pelaksanaan gizi dan nutrisi yang kaitannya terhadap diagnosis atau masalah kesehatan. Ahli gizi memiliki peranan penting dalam mengatur gizi yang masuk ke dalam tubuh pasien, termasuk bagi penderita kanker, diabetes, ginjal maupun ibu hamil.

Banyak masyarakat awam sekarang memilih gaya hidup tak terbataskan. Melalui tren yang sedang berkembang, masyarakat justru mengikutinya tanpa petunjuk yang jelas. Menerobos sesuka hati, tanpa melihat baik buruk pangan yang dipilih. Baik yang sudah diolah terlebih dahulu atau masih mentah. Ini sering terjadi karena ketidakpedulian masyarakat terhadap nutrisi yang terkandung di dalam sumber pangan.

Sebagai seorang mahasiswa yang masih menggali ilmu dengan penuh semangat, saya cukup prihatin dengan gaya hidup dalam memilih makanan di era sekarang. Kita ambil contoh pembahasan yaitu Alkohol. Tren makan ataupun memasak makanan chenese, di mana ada Alkohol yang terkandung didalam olahan masakan tersebut, contohnya saja pada arak masak yang dicampurkan ke makanan chenese. Di era ini kebanyakan pemahaman masyarakat Alkohol boleh dicampurkan kedalam makanan asalkan jumlah nya sedikit.

Padahal haram adalah haram, tidak perlu di halal - halal kan. Seperti yang terdapat didalam QS. Al-Maidah ayat 90 yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."

Dalam Trilogi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah terdapat tiga komponen yaitu Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan. Saya ingin mencoba mengaitkan peran ahli gizi di era milenial dengan tiga komponen tersebut.

Komponen yang pertama ingin saya bahas yaitu kemahasiswaan. Didalam ikatan sendiri mahasiswa merupakan jati diri ikatan, karena intelektualitas yang dimiliki ikatan bukan hanya intelektual saja tetapi intelektual yang bersendikan pada nilai – nilai ikatan. Sebagai mahasiswa muhammadiyah sekaligus mahasiswa gizi, kita harus menjadi mahasiswa yang memiliki peran di era sekarang. Kita harus rajin menuntut ilmu gizi dan menerapkan ilmu tersebut didalam kehidupan sehari – hari. Kita juga bisa menjadi pelopor gizi ke lingkungan sekitar, seperti diri sendiri dan keluarga. Kita juga bisa membuat konten, seperti yang biasa saya lakukan, saya membuat konten disalah satu aplikasi bernama Tiktok. Dimana konten tersebut berisi informasi seputar gizi.

Komponen yang kedua yang ingin saya bahas yaitu keagamaan. Keagamaan sendiri merupakan hal terpenting dalam ikatan dikarenakan ikatan sebagai organisasi otonom dari Muhammadiyah yang mengupayakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia. Jika dikaitkan dengan peran ahli gizi di era milenial, kita bisa melihat dari pangan yang dikonsumsi masyarakat saat ini, sudah sesuai syariat agama islam atau belum. Untuk implementasi nya sendiri kita dapat mengamalkan nya terlebih dahulu pada diri sendiri dan keluarga. Selanjutnya kita dapat memberitahu orang – orang dilingkungan terdekat kita, misal kepada teman. Di era milenial ini kita juga dapat memberi tahu informasi keamanan dan kehalalan pangan melalui aplikasi aplikasi yang ada. Entah itu kita membuat desaingrafis yang berisi informasi dan kita unggah di media sosial kita, atau hal lainnya. Kita bisa mencoba memberi pemahaman kenapa makanan itu diharamkan. Semisal memakan salah satu hewan bernama Babi. Makanan yang secara tegas diharamkan dalam alQur’an ini diharamkan. Sebab, babi senang dan suka pada tempat-tempat yang kotor, sehingga dalam daging babi tersebut mengandung berbagai kuman-kuma penyakit. Orang yang memakan daging babi akan timbul dalam tubuhnya cacing-cacing pita  yang timbul akibat binatang itu memakan bangkai tikus, daging babi  sulit dicerna, karena terlalu banyak lemak dalam lapisan-lapisan ototnya. Bahkan zat lemak babi  menyebabkan cairan lambung tak bisa sampai kepada makana, akibatnya menyulitkan pencernaan zat-zat putih dan memayahkan lambung. Adapun hikmah diharamkannya mengkonsumsi daging babi karena di dalamnya terdapat bakteri-bakteri yang membahayakan kesehatan manusia.

Komponen terakhir yang ingin saya bahas adalah Kemasyarakatan. Sebagai kader IMM sudah sepantasnya kita mengimplemetasikan ilmu yang kita miliki ke masyarakat. Dari saya sendiri sebagai mahasiswa gizi, saya dapat melakukan penyuluhan seputar informasi gizi ke masyarakat. Saya juga dapat melakukan pengukuran antropometri (Berat badan, Tinggi badan, dll) ke masyarakat dalam pengabdian masyarakat. Saya juga bisa mengatur pola makan dan menu gizi sehari – hari pasien. Tentu saja implementasi ini sejalan dengan salah satu triologi imm yaitu kemasyarakatan. Dalam pembahasan sebelumnya yaitu kegamaan dan kemahasiswaan pun saya menerapkan implementasi lebih banyak ke masyarakat melalui aplikasi media sosial, hal itu selaras dengan judul essai ini yaitu peran ahli gizi di era milenial dan selaras dengan pengkaderan saya di IMM yaitu Kepala Bidang Media dan Komunikasi.

Komentar